Surat terbuka Dari anak negeri untuk para politisi

politisi-lilin3demokrasi terbesar dan yang paling banyak mengeluarkan dana negara sepekan sudah berlalu, namun pesta ini seolah menjadi letupan awal bagi perdebatan dan persengketaan baru. Layaknya sumbu petasan yang dinyalakan, maka pemilu yang lalu bagaikan sumbu tersebut. Ancaman, ketidak puasan dari beberapa partai dan politisi yang mengklaim bahwa pemilu kemarin adalah pemilu yang terburuk layaknya api yang siap menyalakan sumbu petasan ini. Padahal andaikata partainya memenangkan pemilu, saya tidak yakin anda atau partai anda akan sefokal hari ini.


Belum juga usai persengketaan, anak negeri di bagian sana di ancam ketidak tenangan, banjir bandang yang menghancurkan ratusan rumah warga dan nyawa di situ gintung, banjir yang menghanyutkan ratusan hektar pertanian warga seolah tenggelam tak ada suara, ancaman bom dan persengketaan di daerah negeri ini tidak lagi menjadi topik pemersatu para politisi ini, banjir dan kejadian kemanusiaan lainnya seolah luput oleh peliknya perpolitikan. Siapa menang, siapa kalah !! siapa berkoalisi dengan siapa.. menjadi lalap setiap hari…

Andaikan politisi negeri ada yang membaca tulisan ini, semoga mereka malu dengan debat kusir yang selalu menjadi dagelan di media massa (TV). Demokrasi yang diagulkan tidak lagi tercermin saat saudara menyelak pembicara yang lain. Mana santun para politisi, mana senyuman manis saat anda berkampanye ! yang ada senyuman semu dan ketus karena ketidak sefahaman pandangan. Jujur, saya pribadi sudah pengat dengan perdebatan ini !! saling menyudutkan, saling berinterupsi, membuat hati ini miris melihat calon pemimpin negeri…dimana ketahanan menjaga emosi anda saat anda berbicara !!

Wahai politisi negeri, Apa yang anda debatkan, tidaklah membuat tenang masyarakat, bukankah ada musyawarah untuk mufakat, bukankah tauladan kita sudah mencontohkan hendaknya meleraikan jika ada saudara kita yang bersengketa….bukan saatnya lagi saling menonjolkan kelebihan setiap partai atau individu, namun saatnya untuk berkolaborasi, menyusun setahap demi setahap bangunan reformasi ini. Manusia, partai, sudah pasti pernah melakukan kesalahan. Namun yang lebih salah adalah tatkala kita tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki kesalahan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: