KUNFAYAKUN…TERJADI MAKA TERJADILAH

Ketika makhluk-Nya tidak lagi memiliki habitat, maka sebuah sunnatullah dia akan mencari habitat yang lain sebagai tempat untuk singgah. Andaikan air bisa bicara, mungkin dia akan bertanya pada kita: dimana rumahku yang sejuk? Pepohonan nan rindang, tempat aku berteduh dan bediam diri! Andaikan hewan buas sepeti harimau sumatera itu bisa bicara: mungkin diapun akan bertanya “ dimana makanan lezat untukku, yang sering bersaing lari dengan aku untuk menguji sejauhmana kelincahan dan kesigapanku.

Kasus situ gintung, tanah datar, tsunami, angin puting beliung, dan serentetan kejadian yang lain adalah pertanda kemurkaan alam terhadap manusia yang merusak habitatnya. Musibah terjadi bukan hanya di daerah terpencil yang berbatasan langsung dengan batas alam. Namun bisa terjadi dimana saja, terutama di lokasi yang tidak ada keharmonisan alam dengan para penggunanya.

Maka andaikan kita mentadaburi pertanyaan Retoris dari sang pencipta yang diulang –ulang dalam firman-Nya“ Fabiayyi Aalaa irabbikumaa tukadz dziban “ nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi yang akan kamu dustakan?” (QS. Arrahman : 55) sepantasnya kita berkaca dan lebih mengerutkan dahi!

Bahwa kesombongan, kemewahan, adalah selendang-Nya yang hanya pantas disanding oleh sang pencipta. Kun Fayakun….terjadi maka terjadilah! Tidak ada yang berhak mengambil selendang tersebut, karena kita adalah makhluq yang lemah. Hari ini kita berkecukupan, mungkin besok atau lusa Allah SWT menjadikan kita lebih dari cukup atau bahkan lebih buruk dari kondisi saat ini. Situ gintung jadi saksi, bahwa airpun bisa berinterupsi, Amarahnya dapat menghancurkan ongkahan batu yang kokoh…

Uniknya, tempat sujud lagi-lagi menjadi bukti! Kun fayakun…terjadi maka terjadilah! Tiga puluh orang yang bangun dikala senja untuk melaksanakan shalat shubuh, menjadi saksi akan kedahsyatan air bah yang telah memakan ratusan manusia. Tatkala bangunan disekitarnya roboh, rumah itu tetap kokoh. Adalah masjid Jabalul Rahmah, satu-satunya bangunan yang tetap tegak saat air bah menghanyutkan daerah disekitar hulu sungai situ Gintung. Padahal jaraknya hanya 50 meter dari lokasi sungai…subhanallah. Kejadian ini mengingatkanku pada sabda Rasulullah: bahwa salah satu golongan yang akan dilindungi oleh Allah tatkala tidak ada lagi naungan adalah mereka yang hatinya terikat pada masjid.

Kunfayakun…terjadi maka terjadilah….maka nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi yang akan kau dustakan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: